Obvervasi Akhir Tahun : Pesimisme Penerapan Plan Nomer Ganjil Genap
Twitter : @SenyumDunia
Observasi akhir tahun kali ini akan saya awali dengan sorotan seputar wacana penerapan plat nomer ganjil genap yang menurut rencana akan mulai diberlakukan mulai tahun depan.
Pada dasarnya saya mengerti apa yang hendak dicapai dari rencana ini. Apalagi kemacetan di Jakarta memang terasa semakin parah dari hari ke hari. Sebagai Gubernur yang perduli masalah yang dihadapi warganya kita patut bersyukur jika Gubernur kita secara kongkret mulai memikirkan cara untuk mengatasi kemacetan.
Namun di sisi lain, saya sangat pesimis dan sejujurnya berharap agar wacana ini tidak direalisasikan. Wacana ini yang awalnya dilontarkan oleh mantan gubernur Sutiyoso memang berjalan dengan baik di Bogota, namun seperti yang dinyatakan bang Yos di beberapa media, ia melihat adanya kemungkinan jika program ini membuka peluang adanya plat nomer ganda dan memberikan jalan bagi orang kaya yang mampu memiliki lebih dari satu mobil untuk mengakali sistem ini. Alasan ini pula yang mendasari dibatalkannya wacana ini.
Persisnya saya tidak tahu mengapa pak Jokowi memikirkan kembali untuk merealisasikan program ini. Sebelumnya akhirnya diterapkan, terlalu dini memang untuk mengambil kesimpulan jika program ini tidak akan berjalan. Dari yang saya dengar pemerintah DKI juga kabarnya akan menggencarkan sosialiasi demi terlaksananya program ini, dan melakukan berbagai upaya di antaranya dengan menerapkan stiker, pengerahan polisi untuk memantau para pelanggar sekaligus pemasangan CCTV.
Sepintas lalu, program ini terlihat baik. Namun demikian saya mengkhawatirkan efektifitas dari program ini. Kita lihat saja situasi di jalan-jalan protokol Jakarta. Ada kalanya, malah mungkin hampir setiap harinya ruas jallan ini dipenuhi kemacetan di luar jam sibuk sekalipun. Jumlah kendaraan pribadi yang melewati ruas jalan inipun dan jalan tol pun tidaklah sedikit. Bahkan ada yang berpendapat salah satu penyebab kemacetan adalah adanya ketidak seimbangan antara ruas jalan dan jumlah kendaraan yang terus meningkat.
Ini berarti, secara kasat mata saja akan sulit untuk mendeteksi setiap kendaraan yang lewat. Jika kebijakan ini diterapkan saya tidak yakin jika jumlah polisi yang ada ditambah lagi dengan kehadiran kamera CCTV dapat mendeteksi setiap plat nomer kendaraan yang masuk. Jika ini terjadi, tentu saja kemacetan masih tidak dapat dihindari karena mendorong para pengguna kendaraan untuk mengambil kesempatan di dalam kesempitan.
Selain itu sanksi yang diterapkan juga tidak terlalu jelas, aturan ini akan menjadi percuma jika para pelanggar tidak ditindak. Sebaliknya jika kita mengacu pada kekhawatiran bang Yos, saya juga memikirkan kemungkinan adanya diskriminasi, mengingat orang kaya mampu membeli lebih dari satu mobil dan kepemilikan plat nomer ganda bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan terkecuali jika kepolisian memiliki sistim yang canggih yang menampung data kendaraan pribadi di Jakarta dan kamera dengan daya zoom tinggi yang mampu mendekteksi para pelanggar hingga target dari program ini dapat tercapai.
Solusi yang saya pikirkan adalah memaksimalkan penggunaan umum. Solusi ini tentu saja tidak murah, karena biaya untuk memperbaiki dan menyediakan infra struktur pendukung juga tidak murah. Di sisi lain, jika Jakarta memiliki angkutan umum yang aman, nyaman dan terjangkau, bukan tidak mungkin secara berkala, jumlah pengguna kendaraan umum akan meningkat dan dengan sendirinya penggunaan kendaraan pribadi di dalam kotapun diharapkan akan berkurang.
Lebih spesifik lagi, idealnya orang tidak lagi memikirkan menggunakan kendaraan pribadi untuk berangkat kerja misalnya. Tetapi jika penggunaan pribadi dapat dibatasi dengan didukung fasilitas parkir yang memadai di stasiun kereta dan atau terminal bus, hingga pengguna kendaraan pribadi dapat melanjutkan sebagian rute hariannya dengan menggunakan kendaraan umum.
Jika semuanya berjalan sesuai rencana, tidak lama lagi masyarakat Jakarta akan menikmati MRT. Sebagai salah seorang warga Jakarta, saya sudah tidak sabar melihat operasional dari sistem ini. MRT bukanlah langkah terakhir yang dapat dilakukan pemda DKI, karena jika saya tidak salah pak Jokowi juga berencana (dan mudah-mudahan sudah direalisasikan) meremajakan bus-bus kota seperti metro mini dan Kopaja. Dengan kata lain, kita sama-sama memaklumi jika membenahi sistem angkutan umum di Jakarta sekaligus mengatasi kemacetan bukan perkara mudah dan membutuhkan waktu.
Kita tunggu saja bagaimana secara keseluruhan program ini berjalan. Jika toh penerapan plat nomer ganjil genap jadi juga diterapkan saya berharap akan berjalan dengan baik dan lancer, dan apa yang saya khawatirkan tidak terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar